Toy Story (1995)

Toy Story is an epic from the beginning

Setelah menonton Toy Story 3 , gue jadi kangen buat nonton dua film Toy Story sebelumnya. Karena gue udah lama banget nontonkedua filmnya , apalagi yang pertama , gue udah agak lupa ceritanya dan penasaran buat nonton filmnya lagi. Gue juga berpikir apa dua film sebelumnya sekeren film ketiganya? Yang gue inget ketika dulu nonton film ini di bioskop saat nontonnya bareng tante dan cuma mengagumi kenapa ada mainan yang bisa ngomong , hehe..

Oke cukup nostalgianya , sekarang buat spoilernya untuk yang belum nonton. Toy Story mengisahkan (seorang atau sebuah ya ?) mainan koboi bernama Woody yang merupakan mainan favorit seorang anak laki-laki bernama Andy. Andy selalu memainkan Woody sebagai ‘pahlawan’ dalam setiap bermaind negan menggunakanmainan-mainan yang lainnya. Woodypun menikmatinya dan hal ini menyebabkan ia merasa menjadi seorang yang paling jumawa diantara mainan-mainan kepunyaan Andy.

Hal itu terus terjadi sampai pada suatu saat Andy berulang tahun dan ia mendapatkan satu hadiah berupa mainan baru , sebuah spaceman(bingung bahasa Indonesianya jadi apa ya? Manusia Luar Angkasa ? Alien dong -_-) bernama Buzz Lightyear atau singkatnya, Buzz. Ketika Buzz datang , semua perhatian dari Andy ataupun mainan-mainan lai berpindah dari Woody ke Buzz. Hal ini membuat Woody cemburu dan mencari cara agar segala atensi kembali pada dirinya. Woodypun berusaha menyingkirkan Buzz dari hadapan Andy yang menyebabkan Buzz jatuh ke halaman tetangga yang bernama Sid , seorang anak yang dikenal suka merusak mainan. Akibatnya Woody dibenci oleh mainan-mainan lain dan diusir dari rumah.

jealousy , turning saint into the sea

Ingin memperbaiki hal tersebut , Woodypun berusaha menolong Buzz untuk kembali ke rumah. Namun keadaan menjadi rumit karena Woody dan Buzz ditemukan oleh Sid dan dibawa ke rumahnya. Bersama , Woody dan Buzz mencari cara untuk kembali ke rumah , dan setelah melewati banyak hal , Buzz dan Woodypun menjadi sahabat yang baik.

 

Saat menonton lagi film ini , gue ngerasa lucu aja ngeliat gimana Mr. Potato yang sok, Rex yang badannya gede tapi kelakuannya lucu. Bo yang anggun , dan setia kawannya Slinky. Gue salut sama sang sutradara , John Lasseter yang bisa kepikiran membuat film yang memorable dan punya pesan yang bagus walalupun dituangkan dalam film animasi. Sebuah ide cemerlang yang berhasil dituangkan dengan baik walaupun dengan keterbatasan teknologi di saat itu. Toy Story meungkin saat itu sudah menjadi film kartun yang sangat keren , karena saat  itu belum ada teknologi CGI seperti sekarang dan film kartun yang banyak dihasilkan masih berkutat dengan gambar 2 dimensi. Sebuah terobosan cemerlang yang dilakukan saat itu. Setelah Toy Story keluar, makin banyak lagi film animasi yang bermunculan mengguanakn format 3D , salah satunya adalah A Bug’s Life.

Ngga bisa dipungkiri , Pixar yang dikenal bisa mengahasilkan film animasi yang bermutu baik dari sisi visualisasinya maupun dari ide ceritanya berawal dari film ini (walaupun film ini dibuat berkolaborasi dengan Disney, tapi film-film Pixar selanjutnya punya nilai lebih dari Disney dalam hal cerita). Kita diajak terjun merasakan emosi para mainan yang khawatir mereka digantikan oleh mainan lain , dibuang , atau bahkan dirusak dengan sengaja. Emosi manusiawi yang dimiliki oleh para mainan di film ini sangat menyentuh karena mungkin saja kita merasakan hal yang sama dalam konteks yang berbeda. Kita takut tidak dianggap , merasa ingin diperhatikan, marah ketika teman kita disakiti , hal-hal seperti itu membuat emosi film ini sangat ‘kena’ dengan kehidupan yang kita alami sehingga saat menontonnya kita terbawa suasana.

Scene yang paling menyedihkan menurut gue adalah ketika Buzz menyadari dia tidak bisa terbang. Saat ia terjebak di rumah Sid bersama Woody, ada satu jalan keluar yaitu sebuah jendela. namun jendela itu terletak cukup tinggi di atas rumah. Meyakini dirinya bisa terbang, Buzz meloncat dari lantai dua untuk menggapai jendela tersebut. Tapi akhirnya ia terjatuh dan tangannya copot dari badannya. Hal itu membuat dirinya frustasi dan menyadari kalo dirinya cuma mainan plastik biasa yang ngga ada bedanya sama mainan lain, yang sama-sama memiliki tulisan “Made In Taiwan” di tangannya..

Momen emosional seperti inilah yang menurut gue membuat film ini menarik , kedekatan emosi itu membuat kita membuat kita berpikir dan merasakan dengan hati kalo mungkin kita juga akan melakukan hal-hal yang sama dengan mainan-mainan itu kalo menghadapi masalah yang serupa.

Di film ini juga kita bisa ngelihat gimana karakterisasi masing-masing mainan pada saat pertama kali muncul. Gimana blo’onnya si Buzz yang masih merasa dia agen rahasia yang ditugaskan untuk mencari musuh luar angkasanya dan bersikeras kalo dia bisa terbang . Gimana tengilnya si Woody ketika ia masih menjadi mainan favorit Andy , tanpa tahu di luar sana ada mainan yang lebih keren darinya. Yah , hal ini memang baru bakal berlaku kalo kamu udah nonton filmnya sih..

Menurut gue Toy Story merupakan film yang punya kenangan tersendiri. Bukan apa-apa soalnya timing film ini keluar sesuai banget sama umur gue, begitu juga saat film kedua dan ketiganya keluar, Pixar create a magic with this movie. Untuk yang mau nostalgia lagi ke masa kecil , boleh deh dibuka lagi koleksi dvdnya buat nonton film ini untuk kesekian kalinya .

Director : John Lasseter

Cast : Tom Hanks ,Tim Allen,Don Rickles,Jim Varney,Annie Potts,John Morris

Release : 1995

Rate : 9/10

2 thoughts on “Toy Story (1995)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s